Oleh: Dr. Sahala Martua Solin, S.Th., S.H., M.Th. bersama Atur Solin
Pendahuluan
Sejarah masyarakat Pakpak pada umumnya masih banyak tersimpan dalam bentuk tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi tersebut menjadi sumber penting dalam merekonstruksi sejarah awal masyarakat sebelum berkembangnya penulisan sejarah secara sistematis. Oleh karena itu, pendekatan etnohistoris, yaitu memadukan tradisi lisan, penelitian lapangan, toponimi (nama tempat), dan kajian antropologi, menjadi metode yang relevan untuk memahami asal-usul suatu kelompok masyarakat.
Salah satu tradisi lisan yang masih hidup hingga saat ini adalah kisah mengenai Banu Harhar sebagai salah satu pusat permukiman awal masyarakat Pakpak Simsim dan hubungan sejarahnya dengan Kombih di wilayah Pakpak Boang.
Banu Harhar sebagai Permukiman Awal
Berdasarkan cerita para tetua adat (mpung) yang diwariskan secara turun-temurun serta hasil wawancara lapangan, Banu Harhar dipercaya sebagai salah satu pusat perkembangan awal masyarakat Pakpak Simsim. Pada masa tersebut sistem marga belum terbentuk seperti sekarang, sehingga identitas masyarakat lebih banyak didasarkan pada hubungan kekerabatan.
Dalam tradisi tersebut dikenal seorang tokoh bernama Siaji yang memiliki seorang putri bernama Putri Hiang. Putri Hiang kemudian dipersunting oleh Perubeaji, yang dalam tradisi disebut sebagai keturunan Lona dan Kada.
Dari perkawinan tersebut lahirlah tiga tokoh leluhur, yaitu:
- Sori Tandang, yang dalam perkembangan selanjutnya dikaitkan dengan keturunan Marga Padang.
- Sori Gigi, yang dikaitkan dengan keturunan Marga Berutu.
- Patuan Sori (Punguten Sori), yang kemudian menjadi leluhur Marga Solin.
Ketiga garis keturunan tersebut memiliki identitas bersama dengan sebutan Sori, yang dalam perkembangan penyebutan masyarakat dikenal sebagai Sortagiri.
Migrasi dari Banu Harhar menuju Wilayah Boang
Tradisi lisan menyebutkan bahwa setelah populasi berkembang, masyarakat mulai melakukan perpindahan mengikuti jalur sungai. Jalur yang paling penting adalah Lae Ordi yang kemudian tersambung menuju Lae Kombih.
Dalam kebudayaan Pakpak, sungai merupakan jalur transportasi utama jauh sebelum adanya jalan darat modern. Karena itu perpindahan penduduk, perdagangan, maupun hubungan sosial umumnya mengikuti aliran sungai.
Menurut penuturan masyarakat, keluarga Putri Hiang sering melakukan perjalanan dari Banu Harhar menuju daerah Boang melalui Lae Kombih. Akibat aktivitas yang berulang tersebut, kelompok keluarga itu kemudian dikenal masyarakat sebagai Kombih.
Toponimi seperti ini merupakan fenomena yang umum dalam kajian sejarah, yaitu suatu kelompok masyarakat memperoleh identitas berdasarkan wilayah, sungai, atau tempat yang sering mereka tempati maupun lintasi.
Hubungan Pakpak Simsim dan Pakpak Boang
Dalam perspektif etnohistoris terdapat dua kemungkinan yang sama-sama layak dikaji lebih lanjut.
Hipotesis pertama, kelompok Kombih berasal dari Banu Harhar (Pakpak Simsim), kemudian bermigrasi mengikuti aliran sungai menuju wilayah Boang dan membangun pusat kekuasaan yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Kombih.
Hipotesis kedua, kelompok Kombih sejak awal telah berada di wilayah Boang, kemudian sebagian melakukan migrasi ke Banu Harhar karena kepentingan perdagangan, perkawinan, atau hubungan sosial, sebelum akhirnya sebagian keturunannya kembali ke wilayah Boang.
Kedua hipotesis tersebut menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara Pakpak Simsim dan Pakpak Boang, terutama melalui jalur sungai sebagai koridor migrasi dan interaksi budaya.
Analisis Antropologis
Dalam kajian antropologi Indonesia dijelaskan bahwa masyarakat Sumatera yang bermarga, berkembang melalui pola migrasi keluarga besar yang kemudian membentuk marga-marga. Pola tersebut juga terlihat dalam tradisi Sortagiri, di mana identitas awal berupa kelompok kekerabatan kemudian berkembang menjadi identitas marga.
Tradisi lisan juga menunjukkan bahwa hubungan genealogis sering kali lebih tua dibandingkan pembentukan marga, sehingga tidak semua nama leluhur langsung menjadi nama marga.
Kesimpulan
Tradisi mengenai Banu Harhar, Putri Hiang, Perubeaji, Sortagiri, dan Kombih merupakan bagian penting dari memori kolektif masyarakat Pakpak. Walaupun sebagian besar masih bersumber dari tradisi lisan, narasi tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi karena didukung oleh kesinambungan cerita antargenerasi, keberadaan toponimi seperti Banu Harhar, Lae Ordi, dan Lae Kombih, serta pola migrasi yang sesuai dengan karakter perkembangan masyarakat Pakpak.
Untuk memperkuat rekonstruksi sejarah ini diperlukan penelitian lanjutan melalui kajian naskah kolonial Belanda, arsip mengenai Kerajaan Pakpak, penelitian arkeologi, pemetaan situs-situs kuno, serta analisis linguistik terhadap nama tempat dan nama leluhur.
SORTAGIRI dan KOMBIH
Perubeaji diyakini dalam tradisi lisan masyarakat Pakpak sebagai salah satu generasi keturunan Kada dan Lona yang telah menetap di Banu Harhar, sebuah kawasan yang oleh para tetua adat dipandang sebagai salah satu pusat pemiskaren (perkembangan dan penyebaran) masyarakat Pakpak Simsim pada masa awal. Pada periode tersebut sistem kemargaan sebagaimana dikenal sekarang diperkirakan belum terbentuk secara utuh. Identitas masyarakat lebih didasarkan pada hubungan genealogis, kelompok keluarga, dan kepemimpinan adat. Oleh karena itu, Banu Harhar dipandang bukan hanya sebagai permukiman, melainkan sebagai pusat lahirnya berbagai garis keturunan yang kemudian berkembang menjadi marga-marga besar di Tanoh Pakpak.
Dalam tradisi yang diwariskan turun-temurun, pada masa perkembangan Banu Harhar datang pula sekelompok keluarga dari wilayah selatan yang kini dikenal sebagai Pakpak Boang. Kelompok tersebut dipimpin oleh seorang tokoh bernama Siaji. Kedatangan mereka dipahami sebagai bagian dari fenomena mergaraha, yaitu masa ketika kelompok-kelompok masyarakat melakukan perpindahan tempat tinggal secara bertahap untuk membuka permukiman baru, memperluas hubungan kekerabatan, menjalin perdagangan, mencari lahan yang lebih baik, maupun membangun hubungan sosial antarkelompok. Pola mobilitas seperti ini merupakan ciri umum masyarakat agraris dan pegunungan di Sumatra sebelum terbentuknya kerajaan-kerajaan yang lebih terorganisasi.
Siaji datang ke Banu Harhar bersama keluarganya, termasuk seorang putri yang dikenal dalam tradisi sebagai Putri Hiang. Pertemuan antara Perubeaji dan Putri Hiang menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah lisan masyarakat Pakpak karena melalui perkawinan tersebut terjalin hubungan kekerabatan antara kelompok masyarakat Banu Harhar di Pakpak Simsim dengan kelompok keluarga dari wilayah Boang. Dalam adat Pakpak, perkawinan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga membangun ikatan sosial, politik, dan budaya antara dua kelompok keluarga besar. Oleh sebab itu, perkawinan Perubeaji dan Putri Hiang dipandang sebagai awal terbentuknya jaringan kekerabatan yang berpengaruh dalam perkembangan masyarakat Pakpak.
Dari perkawinan tersebut, menurut tradisi lisan yang paling banyak dikenal, lahirlah tiga orang putra, yaitu: (1) Sori Tandang, yang kemudian dikaitkan sebagai leluhur Marga Padang; (2) Sori Gigi, yang menjadi leluhur Marga Berutu; dan (3) Patuan Sori atau Punguten Sori, yang kemudian menjadi leluhur Marga Solin. Namun demikian, dalam beberapa versi tradisi lisan, khususnya yang berkembang di lingkungan Marga Berutu, disebutkan bahwa Perubeaji sesungguhnya memiliki empat orang anak, yaitu tiga putra dan seorang putri. Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi narasi dalam tradisi lisan yang merupakan hal lazim dalam kajian etnohistori dan tidak mengurangi nilai historisnya sebagai memori kolektif masyarakat.
Ketiga tokoh tersebut memiliki identitas bersama dengan sebutan Sori, yang dalam perkembangan penyebutannya dikenal sebagai Sortagiri. Sebutan ini bukan hanya menunjukkan hubungan darah, tetapi juga mencerminkan satu rumpun genealogis yang kemudian berkembang menjadi tiga garis keturunan utama, yakni Solin, Berutu, dan Padang. Dengan demikian, istilah Sortagiri dapat dipahami sebagai identitas kekerabatan sebelum berkembang menjadi identitas kemargaan yang lebih spesifik.
Hubungan kekeluargaan antara keturunan Sortagiri dengan keluarga Siaji tidak berhenti setelah perkawinan tersebut. Tradisi lisan menyebutkan bahwa hubungan silaturahmi, pertukaran adat, serta aktivitas ekonomi terus berlangsung antara Banu Harhar di Pakpak Simsim dan wilayah Boang. Jalur yang paling sering digunakan adalah melalui Lae Kombih, yang menjadi salah satu koridor alami penghubung kedua wilayah. Intensitas perjalanan yang dilakukan keluarga Siaji melalui sungai tersebut menyebabkan masyarakat kemudian mengenal mereka sebagai keluarga Kombih, yang pada perkembangan selanjutnya menjadi identitas Marga Kombih.
Sebaliknya, keturunan Sortagiri juga melakukan perpindahan (mergaraha) menuju wilayah Pakpak Boang. Hal ini menunjukkan bahwa proses migrasi berlangsung dua arah dan menciptakan hubungan timbal balik antara masyarakat Pakpak Simsim dan Pakpak Boang. Mobilitas tersebut tidak hanya memperluas wilayah permukiman, tetapi juga memperkuat jaringan adat, hubungan perkawinan, perdagangan, serta pertukaran budaya yang berlangsung selama beberapa generasi.
Keberadaan Lae Kombih mempunyai arti penting dalam rekonstruksi sejarah ini. Sungai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi tradisional, tetapi juga menjadi penghubung utama antara kawasan pedalaman Simsim dan wilayah Boang. Dalam tradisi masyarakat setempat disebutkan bahwa di kawasan hilir atau muara aliran Lae Kombih berkembang sebuah pusat kekuasaan yang dikenal sebagai Kerajaan Kombih. Walaupun hubungan langsung antara kerajaan tersebut dengan kelompok keluarga Siaji masih memerlukan penelitian sejarah yang lebih mendalam melalui arsip kolonial, penelitian arkeologi, dan kajian toponimi, tradisi lisan masyarakat menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat antara nama sungai, kelompok keluarga Kombih, dan pusat pemerintahan tradisional di wilayah Boang.
Dengan demikian, kisah Perubeaji, Putri Hiang, Sortagiri, dan Kombih tidak hanya dipahami sebagai cerita asal-usul keluarga, tetapi juga menggambarkan proses migrasi, pembentukan jaringan kekerabatan, serta perkembangan masyarakat Pakpak pada masa awal sebelum sistem kemargaan berkembang secara mapan. Tradisi ini sekaligus memperlihatkan eratnya hubungan historis antara masyarakat Pakpak Simsim dan Pakpak Boang yang terjalin melalui perkawinan, perpindahan penduduk, serta pemanfaatan jalur sungai sebagai sarana komunikasi dan perkembangan peradaban.
Referensi
- Edward M. Bruner, Kinship Organization among the Batak of Sumatra.
- Balai Arkeologi Sumatera Utara, berbagai laporan penelitian kawasan Pakpak.
- Tradisi lisan masyarakat Pakpak Simsim dan Pakpak Boang (wawancara para mpung/tokoh adat).
- Hasil observasi lapangan Banu Harhar, Lae Ordi, dan kawasan Kerajaan Kombih di Subuusalam-Singkil, Pakpak Boang oleh Atur Solin dan Dr. Sahala Martua Solin.

